Pages

Monday, September 3, 2018

Krisis Argentina dan Turki Berimbas ke Sektor Otomotif Tanah Air?

Liputan6.com, Jakarta - Krisis keuangan yang menerpa Argentina dan Turki turut dirasakan pasar global. Indonesia pun merasakannya di mana nilai tukar rupiah merosot ke titik terendah sejak krisis 1998.

Senin pagi (3/9) levelnya berada pada Rp 14.750 per dolar AS. Bank Indonesia (BI) telah mengeluarkan banyak jurus demi meredam volatilitas rupiah. Salah satunya, pakai cadangan devisa hingga miliaran dolar.

Bahkan BI tercatat sudah menaikkan suku bunga acuan empat kali sejak pertengahan Mei. Terakhir mereka menaikan 5,75 persen. Jelas, mempengaruhi pembiayaan kendaraan di sektor otomotif. Suku bunga yang naik, bikin market lesu.

Lantas, kenapa efek krisis keuangan Argentina dan Turki bikin Indonesia kena imbasnya, termasuk dunia otomotif? Baiklah, kita coba ceritakan runutannya secara perlahan.

Nah, perlu diketahui, sebelum kedua negara tersebut terkena krisis, pasar negara berkembang seperti Indonesia sudah khawatir. Kita di bawah tekanan lantaran meningkatnya suku bunga dan dolar AS yang lebih kuat. Sementara bagian dari daya tarik pasar Indonesia adalah imbal hasil yang relatif lebih tinggi, dibandingkan pasar negara maju.

Tapi, belakangan selisih imbal hasil itu menyempit. Sebab, The Federal Reserve (The Fed) alias bank central AS menaikkan biaya pinjaman. Pasar negara berkembang seperti Indonesia menjadi kurang menarik.

Krisis di Argentina melebihi Turki, mengurangi minat investor untuk aset berisiko, mendorong eksodus dana dari pasar negara berkembang, ke tempat yang relatif aman di pasar negara maju.

Let's block ads! (Why?)

from Berita Hari Ini, Kabar Harian Terbaru Terkini Indonesia - Liputan6.com https://ift.tt/2wEaOeq

No comments:

Post a Comment